Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 08 Maret 2014

Petuah Syekh Sayrif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati)


1. Ingsun titip tajug lan fakir miskin                 
   (Aku titip tajug dan fakir miskin)

2. Yen sembahyang kungsi pucuke panah         
   (Jika shalat harus khusuk dan tawadhu seperti anak  panah yang menancap kuat)

3. Yen puasa den kungsi tetaling gundewa                     
    (Jika puasa harus kuat seperti tali panah)

4. Ibadah kang tetep                                                       
    (Ibadah harus terus menerus)

5. Wedia ing Allah                                                        
    (Takutlah kepada Allah)

Minggu, 13 Oktober 2013

KAMUS BAHASA CIREBON

A
abang merah. bahasa halus abrit.
abrit (bahasa halus) merah. lihat: abang.
adoh jauh. bahasa halus tebih.
ageng (bahasa halus) besar. lihat gede.
ajeng (bahasa halus) 1. akan. 2. depan. lihat arep.
akeh banyak. bahasa halus katah.
alit (bahasa halus) kecil. lihat cilik.
ambir supaya. bahasa halus supadon.
ana ada. bahasa halus wonten.
andap (bahasa halus) bawah. lihat isor.
angsal (bahasa halus) dapat. lihat olih.
arep 1. akan. 2. depan. bahasa halus ajeng.
awan siang-siang.
awis (bahasa halus) mahal. lihat larang

Sabtu, 02 Februari 2013

Upacara Adat Ganti Welit / Selawean di Trusmi


Banyak Upacara adat di Cirebon tepatnya di bulan Maulud ini, diantaranya yang ada di daerah Trusmi Plered di tempat pusat batik cirebon ini ada sebuah upacara adat di makam kramat Trusmi Cirebon "Ganti Welit" namanya. Upacara yang dilaksanakan setiap tahun di Makam Kramat Trusmi ini bertujuan untuk mengganti atap makam keluarga Ki Buyut Trusmi yang menggunakan Welit (anyaman daun kelapa). Upacara ini dilakukan oleh masyarakat Trusmi Cirebon. Biasanya dilaksanakan setiap tanggal 25 bulan Maulud. Pada Waktu Mbah kuwu Cirebon yang bernama Pangeran Cakrabuana hijrah dari Cirebon ke sebuah Daerah yang sekarang disebut Trusmi, mbah Kuwu Cirebon berganti pakaian memakai baju kyai yang tugasnya menyebarkan ajaran agama Islam. Hingga sekarang ia dikenal dengan nama Mbah Buyut Trusmi.

Rabu, 11 April 2012

Museum Benda Kuno Keraton Kasepuhan

Museum Benda Kuno Keraton Kasepuhan berada di sebuah ruangan berbentuk menyerupai huruf E, yang bangunannya berada di sayap kanan kompleks Keraton Kasepuhan, Cirebon. Sayang sekali ketika kami berkunjung, baik kondisi bangunan, keadaan ruangan maupun koleksi Museum Benda Kuno Keraton Kasepuhan ini berada dalam kondisi yang cukup memprihatinkan, meskipun nilai koleksinya tak ternilai harganya. Keterbatasan dana sering menjadi alasan klasik keterlantaran sebuah museum. Meskipun dalam banyak kasus hal itu benar, namun yang juga sering terjadi adalah adanya kelemahan dalam pengelolaan museum, sehingga pemasukan keuangan tidak sebanding dengan biaya pengeluaran untuk melakukan perawatan, perbaikan dan peningkatan kualitas museum.
Museum Benda Kuno Keraton Kasepuhan

ABDUL ADJIB & TARLING PUTRA SANGKALA TJIREBON

 Ini adalah karya besar Sang Maestro Abdul Adjib





Here's an incredibly beautiful Tarling record from the great, late Maestro Abdul Adjib and his Putra Sangkala Group from Cirebon.... Great, great stuff....

http://www.mediafire.com/?rb997pgt45xrccv

ENJOY!!!!

Sumber : http://madrotter.blogspot.com/2012/01/abdul-adjib-tarling-putra-sangkala.html

Selasa, 27 Maret 2012

Asal-Usul Sandiwara Cirebon

Sandiwara Cirebon dikenal oleh masyarakat Jawa Barat dengan sebutan "masres" pada tahun 1940-an, ketika Cirebon diduduki oleh kolonialis Jepang. Berdasarkan keterangan yang dihimpun para tokoh sandiwara Cirebon saat ini, disebutkan bahwa pada masa pendudukan Jepang di Indonesia, di daerah Cirebon muncul kesenian yang digemari oleh masyarakat yaitu reog Cirebonan, yang terkenal dengan nama reog sepat.

Pertunjukan reog itu terdiri dari dua bagian. Pertama berupa atraksi bodoran/lawakan, dan kedua berupa drama yang mengambil cerita dari kebiasaan masyarakat daerah tersebut. Pada saat bersamaan, di daerah Jamblang Klangenan muncul pula sebuah kesenian yang lazim disebut toneel (tonil) dengan nama Cahya Widodo. Kesenian ini setiap hari selama berbulan-bulan melakukan narayuda (ngamen).

Dua Syair Tawassul Cirebon

Di Cirebon, terutama di kalangan pesantren ada kebiasaan membaca tawassul pada malam-malam tertentu dengan bersama-sama melantunkan semacam pupuh dalam bahasa Jawa Cirebon yang syairnya berisi petuah-petuah, terutama tentang agama Islam. Salah dua syair yang sering dulantunkan para santri di salah satu pesantren di desa Panguragan Cirebon kala bertawasul adalah syair yang berjudul Dawuh Syekhuna dan Syukuran. Penulis sendiri belum tahu siapa pengarang syair ini, tapi yang jelas kedua syair ini memiliki makna petuah yang begitu dalam.

Untuk itulah saya akan menshare kedua syair itu di sini berikut mencoba untuk menterjemahkannya dalam bahasa Indonesia. Tapi jika ternyata ada yang kurang pas dengan terjemahannya saya minta maaf, dan mempersilahkan para pembaca untuk mengkoreksinya.

Inilah kedua syair tersebut bersama hasil terjemahan dari saya. Semoga bermanfaat.

Kamis, 09 Februari 2012

Asal Usul Sejarah Batik Trusmi Cirebon

Trusmi berada di daerah Kabupaten Cirebon, desa yang hingga saat ini telah menjadi sentra bisnis batik, dan menjadi object wisata batik dan belanja batik, desa tersebut terbagi dua yaitu desa Trusmi Wetan dan Trusmi Kulon. Desa ini terletak sekitar 5 km dari pusat kota Cirebon. Batik trusmi mulai ada sejak abad ke 14. Asal muasal desa trusmi yaitu suatu daerah dimana saat itu tumbuh banyak tumbuhan dan pepohonan, pada saat itu ketika para warga menebang tumbuhan tersebut namun seketika itu juga tumbuhan itu tumbuh kembali. Sehingga tanah tersebut dinamakan Desa Trusmi yang berasal dari kata terus semi atau terus bersemi yang akhirnya berkembang hingga saat ini menjadi desa batik cirebon.

Selasa, 07 Februari 2012

Menyelami Kesenian Cirebon

 Tari Topeng

Oleh: PRA. Arief Natadiningrat, SE, MM
LETAK geografis Cirebon yang berada di persimpangan jalan dari berbagai jurusan, menyebabkan kebudayaan di Kota Pesisir ini terkesan tindih-menindih. Salah satu yang amat membekas yakni pengaruh kebudayaan Hindu, baik yang tumbuh di Jawa (Hindu-Jawa) maupun di Sunda (Hindu-Sunda). Indikasi ini misalnya terlihat dari lambang Keraton berupa Harimau putih, yang menurut catatan sejarah merupakan peninggalan dari Kerajaan Hindu-Sunda.

Kalau kita cermati dinamika yang terjadi dalam kebudayaan (baca: kesenian) Cirebon, akan tampak perwujudan persembahan rakyat pada cara kehidupan keagamaan. Sejarah mencatat, sebelum kebudayaan Hindu masuk penduduk Pulau Jawa — termasuk juga Cirebon — memuja segala manifestasi alam yang mereka lihat sekitarnya seperti tumbuh-tumbuhan, batu karang dan laut, juga sungai, gunung, angin dan topan yang sekali-kali mengganggu kehidupan mereka.

Kamis, 08 Desember 2011

Gerebeg Syawal Ritus Doa Bagi Sunan Gunung Jati


Subuh baru saja beranjak pergi. Pagi masih bening. Mentari menabur cahaya kemilau di musim kemarau ini. Menebar ke pelosok bumi waliyullah Cirebon. Melongok dalem Keraton Kasepuhan pagi itu ada yang menarik. Sebuah ritual masih terpatri. Sultan Sepuh XIV PRA Arief Natadiningrat, S.E., dan keluarga besarnya, 8 Syawal 1432 Hijriah, seusai menunaikan saum sunah Syawal selama enam hari sejak 2 - 7 Syawal, ke Masjid Agung Sang Cipta Rasa, Wargi dalem keraton juga tampak sibuk mempersiapkan hajat religi itu.

"Setiap 8 Syawal pagi kami mentradisikan hajat ketupat dikirim ke Masjid Agung, Masjid Dalem Agung, Kramat Ketandan, serta kepada wargi dan abdi dalem," tutur Sultan Sepuh Arief Natadiningrat.

Azan Pitu


 Hanya ada di Kota Cirebon. Tradisi azan ini dilakukan setiap menjelang shalat Jum'at. Tujuh muazin secara serentak menggemakan azan di depan mihrab Masjid Agung Sang Cipta Rasa Kasepuhan Kota Cirebon.


Masjid Peninggalan Sunan Gunung Jati itu terletak di sebelah barat Alun-Alun Keraton Kasepuhan. Tradisi azan pitu telah dilakukan secara turun-temurun sejak lima ratus tahun lalu. Tujuh muazin yang melantunkan azan ini merupakan pengurus masjid yang dipilih penghulu masjid. Selama ini, muazin yang ada sekarang, merupakan keturunan dari muazin sebelumnya yang juga sebagai pengurus di masjid tersebut. "Meskipun tak ada persyaratan khusus, sebagian besar muazin merupakan keturunan dari muazin azan pitu sebelumnya," kata salah seorang pengurus Dewan Kesejahteraan Masjid setempat K.H. Hasan Muhyidin.

Rabu, 07 Desember 2011

Filosofi Topeng Cirebon

Oleh Prof. Drs. JAKOB SUMARDJO

SUDAH lama tari Topeng Cirebon mengundang tanda tanya akibat daya pesonanya yang tinggi, tidak saja di Indonesia tetapi juga di luar negeri. Tari Panji, yang merupakan tarian pertama dalam rangkaian Topeng Cirebon, adalah sebuah misterium. Sampai sekarang belum ada koreografer Indonesia yang mampu menciptakan tarian serupa untuk menandinginya. Tarian Panji seolah-olah “tidak menari”. Justru karena tariannya tidak spektakuler, maka ia merupakan sejatinya tarian, yakni perpaduan antara hakiki gerak dan hakiki diam. Bagi mereka yang kurang peka dalam pengalaman seni, tarian ini akan membosankan. Tarian kok tidak banyak gerak? Bukankah hakikat tari itu memang gerak (tubuh)?

Rabu, 30 November 2011

Muludan

Muludan artinya merayakan mulud yang berasal dari bahasa arab Maulid yang artinya kelahiran. Bulan ini adalah kelahiran Kanjeng Rasulullah Muhammad saw pada tanggal 12 Robi'ul Awal. Bulan Mulud adalah bulan ke tiga dalam perhitungan kalender Islam Jawa. Di bulan ini biasanya ramai terutama di pusat pemerintahan dijaman Kasultanan Cirebon.
Sperti di kraton-kraton lainnya di tanah Jawa, di Cirebon juga diadakan acara yang dinamakan Grebeg Mulud yang lebih dikenal dengan sebutan "Panjang Djimat". Acara ini diadakan oleh tiga Keraton, yaitu Kasepuhan , Kanoman, Kacirebonan pada tepat tgl 12 Mulud. Acara ini cukup cukup menarik perhatian masyarakat terutama masyarakat di sekitar kota Cirebon.

Wulan Sapar (Saparan)

Saparan atau Safar adalah bulan ke dua dalam perhitungan kalender Islam Jawa. Bulan ini di percaya masyarakat adalah bulan musim kawin hewan, atau khewan sing pada kawin seperti anjing (asu), sehingga di bulan ini sebaikanya tidak dilakukan acara pernikahan atau masyarakat Cirebon mengenal bulan larangan untuk melakukan pernikahan. Disamping itu juga bulan sapar dikenal dengan bulan yang sering terjadi malapetaka atau wulan sing akeh sial (blai) khususnya hari rabu terakhir di bulan ini atau orang Cirebon mengenal dengan istilah "Rebo Wekasan". Asal usul keyakinan ini juga belum jelas tapi dari beberapa sumber yang di yakini masyarakat bahwa si hari rabu terakhir di bulan Sapar ini lah banyak terjadi bala. Sehingga di percaya untuk mencegah bala ini kita di anjurkan melakukan sholat 4 rokaat dengan bacaan surat Al-kautsar sebanyak 17 kali di rokaat pertama, Surat Al-Ikhlas sebanyak 5 kali di rokaat ke dua, Surat Al-Falaq di rokaat ke tiga dan Surat An-nas di baca satu kali di rokaat yang ke empat dan di akhiri dengan membaca do'a Asyura.

Panjang Djimat

UPACARA pelal Panjang Jimat sendiri merupakan puncak dari seluruh rangkaian berbagai acara tradisi yang berlangsung di Keraton Kesultanan Kasepuhan, Keraton Kesultanan Kanoman, dan Keraton Kacirebonan. Pelal adalah kata dalam bahasa Jawa Cirebon yang berarti ujung atau akhir.
Seperti daerah lainnya di Pulau Jawa yang memiliki akar budaya tradisi di keraton, peringatan Muludan di Cirebon juga digelar secara meriah sejak sebulan sebelumnya dalam bentuk pesta rakyat dan pasar malam di alun-alun setiap keraton.