Minggu, 03 Februari 2013

Asal Usul Desa Wanasaba



Wanasaba adalah sebuah desa yang terletak di Kecamatan Talun, kurang lebih 6 KM dari Ibukota Sumber. Diantara semua desa yang ada di kecamatan talun , terdapat dua desa yang namanya sama, hanya dibedakan dengan nama dibelakangnya Lor dan Kidul, yaitu Desa wanasaba Lor dan Wanasaba kidul.
Di Desa Wanasaba Kidul terdapat beberapa peninggalan sejarah yang ada hubungannya dengan Kasultanan yang ada di Keraton Cirebon yaitu sebuah Balong yang dinamakan Balong Widara, disitu terdapat rumah bekas keturunan Sultan Cirebon.

Sabtu, 02 Februari 2013

Upacara Adat Ganti Welit / Selawean di Trusmi


Banyak Upacara adat di Cirebon tepatnya di bulan Maulud ini, diantaranya yang ada di daerah Trusmi Plered di tempat pusat batik cirebon ini ada sebuah upacara adat di makam kramat Trusmi Cirebon "Ganti Welit" namanya. Upacara yang dilaksanakan setiap tahun di Makam Kramat Trusmi ini bertujuan untuk mengganti atap makam keluarga Ki Buyut Trusmi yang menggunakan Welit (anyaman daun kelapa). Upacara ini dilakukan oleh masyarakat Trusmi Cirebon. Biasanya dilaksanakan setiap tanggal 25 bulan Maulud. Pada Waktu Mbah kuwu Cirebon yang bernama Pangeran Cakrabuana hijrah dari Cirebon ke sebuah Daerah yang sekarang disebut Trusmi, mbah Kuwu Cirebon berganti pakaian memakai baju kyai yang tugasnya menyebarkan ajaran agama Islam. Hingga sekarang ia dikenal dengan nama Mbah Buyut Trusmi.

Minggu, 16 September 2012

Asal Usul Desa Klangenan

Kisah ini berawal ketika Kerajaan Mataram yang dipimpin oleh seorang Raja, Raja tersebut sangat tertarik dan simpati terhadap ajaran agama Islam, ia mengutus kedua putranya yakni Raden Parta Kesumaatmaja dan Raden Kesumaatmaja untuk menuntut ilmu agama Islam di Cirebon.

Senin, 20 Agustus 2012

Konflik Cirebon abad 17

Konflik internal Cirebon abad 17 menurut Dr. Nina Herlina Lubis, lebih mengemuka dibanding konflik eksternal. Nina mencontohkan Pangeran Aria Carbon yang berhasil mengubah konflik internal dan menjadikan beliau sebagai intelektual pada zamannya. Urung jadi sultan namun menghasilkan kitab Purwaka Caruban Nagari, juga seorang ahli hukum pertanahan, hingga diangkat Kompeni menjadi pengawas pemerintahan.
Upaya meredusir konflik seharusnya dilakukan oleh keluarga keraton saat ini. Pertikaian keluarga lantaran berebut jabatan sultan sejak abad ke 16 di kerajaan-kerajaan Islam Indonesia berakibat lumpuhnya kerajaan. Keadaan ini memudahkan VOC memasang jeratnya, dan pada gilirannya menjadi imperium VOC, sebuah kongsi dagang Belanda yang dipersenjatai. Rujukan sepenggal biografi Pangeran Aria Carbon, tak cuma menjadikan kekaguman kita bertambah; tetapi juga memberi hikmah tentang cara smart power meredusir konflik internal. Keluarga keraton yang lantaran berbagai sebab meninggalkan istana, lalu di tempat baru menggulati keilmuan yang maslahat ~antara lain ilmu agama dan kemasyarakatan.
Contoh lain pun dilakukan Pangeran Sutajaya yang menjauh dari istana ke pesisir Losari. Dari sinilah Pangeran Losari membina masyarakat melalui tajug (musholla), dan meniupkan heroisme serta perlawanan kepada VOC. Nama lain ialah Mbah Muqoyim yang mendirikan Ponpes Buntet di Astanajapura paska meninggalkan istana. Bila membedah sejarah cirebon di abad konflik itu, sederet nama besar leluhur Cirebon akan kita dapati.

Uskup Roma Senangi Kultur Cirebon

 
LEMAHWUNGKUK – Kabar kebudayaan dan sejarah Cirebon sampai ke negeri Roma. Uskup Glen Lewandowski osc dari Roma, Italia berkunjung karena senang dengan kultur Cirebon.
Glen adalah pimpinan Ordo Salib Suci Roma. Di sela-sela kunjungannya ke Cigugur, menyempatkan diri mampir ke Keraton Kasepuhan dan Kanoman Cirebon, Minggu (3/6). Glen Lewandowski mengatakan, sangat bangga dapat melihat langsung kultur di Kota Cirebon, yang masih sangat kental dengan budaya keratonnya. “Saya sangat senang bisa berkunjung ke sini, karena kebudayaan Indonesia dan Cirebon terdengar sampai Italia,” ujarnya dengan bahasa Inggris.

Citra Dewi Artis Layar Perak Indonesia era 50-60an asal Cirebon tahun 1932-2008

Artis layar perak Indonesia 50–60 an tidak bisa dilupakan begitu saja, mereka adalah bagian dari sejarah panjang perfilaman nasional. Walaupun pada kenyataannya terlupakan oleh media massa dan masyarakat kita sekarang. Padahal bakat dan kemampuan berperan mereka tidak boleh dipandang sebelah mata, dan tidak hanya bermodalkan paras cantik dan ayu saja. Berikut adalah  aktris perempuan Indonesia yang merajai layar perak di era 50-60 an:

Citra Dewi perempuan ayu kelahiran Cirebon, 26 Januari, merupakan salah satu aktris terbaik yang pernah dimiliki oleh bangsa Indonesia, memiliki bakat yang luar biasa dan dibalut dengan sebuah kecantikan.