Rabu, 07 Desember 2011

Alun-alun Kejaksan Tempat Awal Proklamasi Di Kumandangkan 15 Agustus 1945



TAK semua orang tahu jika ada peristiwa heroik di Alun-alun Kejaksaan. Di alun-alun tersebutlah sesungguhnya rakyat Cirebon memproklamirkan kemerdekaan Republik Indonesia, sebelum naskah proklamasi tersebut dibacakan Soekarno-Hatta.
Ketika Radio BBC London memberitakan tentara Jepang telah menyerah kepada sekutu pada 14 Agustus 1945, seluruh masyarakat Cirebon menyambutnya dengan euforia. Dr. Sudarsono, aktivis Partai Sosialis Indonesia (PSI) di bawah Sutan Sjahrir, langsung membacakan teks proklamasi pada 15 Agustus 1945 di Alun-alun Kejaksan Cirebon.

"Dr. Sudarsono berapi-api membacakan teks proklamasi konsep Sjahrir di Alun-alun Kejaksan. Tapi ada versi lain yang menyebutkan pembacaan teks proklamasi itu dilakukan di Ciledug, wilayah timur Kabupaten Cirebon," tutur sejarawan Cirebon, Mustaqim Asteja.
Menurut dia, teks proklamasi yang dibacakan dr. Soedarsono pada 15 Agustus 1945, diduga kuat dibacakan di Alun-alun Cirebon. Peristiwa proklamasi itu disaksikan sekira 50 orang. Soedarsono melakukan hal itu setelah menerima berita dari Sjahrir bahwa Radio BBC London memberitakan tentara Jepang telah menyerah kepada sekutu pada 14 Agustus 1945.
"Jadi gerakan-gerakan mengarah pada kemerdekaan RI telah dilakukan rakyat Cirebon. Adakah teks proklamasi yang lain? Banyak catatan yang ditulis sejarah Indonesia maupun Barat, teks proklamasi kemerdekaan Indonesia ditulis malam 17 Agustus 1945 atau bertepatan dengan 17 Ramadhan. Teks tersebut ditulis Soekarno dan Hatta, dibantu rekan seperjuangan lainnya di rumah Laksamana Maeda. Selesai ditulis pukul 04.00 WIB, keesokan harinya, 17 Agustus 1945 pukul 10.05, proklamasi dibacakan, dan kabarnya segera menyebar ke seluruh dunia," ujarnya.
Di Jawa Barat, teks proklamasi tulisan Soekarno-Hatta dibacakan penyiar RRI Bandung Sakti Alamsjah yang tak lain pernah menjadi Pemimpin Redaksi Pikiran Rakyat Bandung, setelah teks tersebut dibacakan di rumah Soekarno Jl. Pegangsaan, Timoer 56 Jakarta.
Mustaqiem menambahkan, dalam momentum Hari Pahlawan pada 10 November 2011, ia berharap kapal perang yang digunakan Kapten Samadikun saat perang laut melawan Belanda bisa diabadikan. Bangkai kapal yang tenggelam akibat dibombardir Kapal Belanda itu bisa diangkat, dan dijadikan monumen perjuangan Kapten Samadikun.

Sumber : http://kabar-cirebon.com/kabarcirebon/berita-1752-alunalun-kejaksan-tempat-awal-proklamasi.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar